Investigasi Misteri di Rumah Tua ( lanjutan 5)
Bagian lima dimulai dengan keempat sahabat yang berdiri di ambang lorong gelap yang baru saja terbuka. Getaran di lantai mulai mereda, tetapi suasana di sekeliling mereka semakin tegang. Udara di dalam lorong terasa dingin dan basah, seperti tidak pernah dijamah selama bertahun-tahun.
“Ini pasti jebakan,” ujar Bimo sambil mundur sedikit, wajahnya menyiratkan ketakutan yang berusaha ia sembunyikan.
Namun, Nia maju selangkah, matanya penuh tekad. “Kita tidak bisa berhenti sekarang. Apa pun yang ada di balik ini, kita harus tahu. Ini lebih besar dari yang kita kira.”
Raka menatap Nia dan Sari, lalu pada Bimo yang masih ragu. “Kita sudah bersama-sama sejauh ini. Kalau ada yang mau mundur, sekaranglah waktunya.”
Sari menggigit bibirnya, perasaan takut bercampur dengan rasa ingin tahu. “Aku… aku akan tetap bersamamu,” katanya, mencoba menguatkan dirinya sendiri.
Bimo, meskipun jelas enggan, akhirnya menghela napas keras dan mengangguk. “Baiklah. Aku nggak akan ninggalin kalian.”
Dengan keputusan itu, mereka perlahan memasuki lorong, meninggalkan pria tua yang kini berdiri dengan tatapan penuh misteri di ambang pintu. Suara langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong sempit itu, sementara bayangan gelap semakin menelan mereka.
Di tengah perjalanan, Nia menghentikan langkahnya tiba-tiba. “Lihat ini,” katanya sambil menunjuk dinding lorong. Ada simbol-simbol yang sama dengan yang ada di kain tadi, tergurat di dinding dengan warna merah gelap yang hampir tak terlihat dalam cahaya remang.
“Kita ada di jalur yang benar,” kata Raka sambil menyentuh salah satu simbol itu, merasakan ukiran kasar di bawah jarinya.
Tiba-tiba, terdengar suara aneh, seperti suara napas berat dari dalam lorong. Mereka semua membeku. “Kalian dengar itu?” bisik Sari, suaranya bergetar.
Mereka mengangguk, saling berpandangan dengan mata terbelalak. Suara itu semakin dekat, tapi mereka tidak bisa melihat apa pun di depan. Raka mengeluarkan senter dari ranselnya dan menyorot ke depan, tapi cahaya itu seakan diserap oleh kegelapan, tak memantul pada apa pun.
“Ada sesuatu di sini… sesuatu yang tidak kita lihat,” gumam Nia, merasakan bulu kuduknya meremang.
Bimo mencoba menjaga keberaniannya, meskipun suaranya sedikit bergetar. “Mungkin itu cuma angin atau… atau tikus?”
Namun, sebelum ada yang bisa bereaksi lebih lanjut, sebuah bayangan besar muncul dari kegelapan. Wujudnya samar, tapi jelas tidak manusia. Mata merah menyala di antara kegelapan, memandang mereka dengan intensitas yang membuat jantung mereka serasa berhenti.
Sari menjerit, dan tanpa berpikir panjang, mereka semua mundur beberapa langkah. “Apa itu!?” teriaknya.
Raka berusaha tetap tenang meskipun seluruh tubuhnya gemetar. “Kita harus pergi! Sekarang!”
Mereka berbalik dan mulai berlari keluar dari lorong. Namun, suara berat itu semakin mendekat, seolah mengejar mereka. Getaran kembali terasa di lantai, kali ini lebih kuat, membuat mereka hampir kehilangan keseimbangan.
Ketika mereka akhirnya mencapai pintu keluar lorong, pria tua itu sudah tidak ada. Pintu di belakang mereka tertutup dengan suara keras, mengunci mereka di luar lorong. Nafas mereka terengah-engah, dan tubuh mereka gemetar.
“Kita tidak bisa kembali ke sana,” ujar Nia, matanya dipenuhi ketakutan. “Apa pun itu… kita tidak bisa melawan.”
Raka menunduk, berusaha menenangkan pikirannya. “Tapi ini belum selesai. Gerbang itu sudah terbuka, dan kita telah membangunkan sesuatu. Kalau kita tidak menemukan cara untuk menghentikannya… Desa Tirta Langit mungkin akan terancam.”
Suasana hening sejenak, tapi mereka tahu satu hal pasti: misteri ini jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari yang mereka kira. Dan sekarang, mereka tidak hanya menyelidiki rahasia rumah tua—mereka juga harus menemukan cara untuk mengunci kembali apa pun yang telah mereka bangkitkan.

Comments
Post a Comment