Investigasi Misteri di Rumah Tua ( lanjutan 6)



Bagian keenam dimulai dengan suasana hening setelah keempat sahabat berhasil keluar dari lorong gelap itu. Nafas mereka masih tersengal-sengal, dan ketegangan di antara mereka terasa semakin berat. Apa pun yang telah mereka bangkitkan dari dalam kegelapan itu terasa seperti ancaman yang semakin nyata.


“Kita nggak bisa terus lari,” kata Raka, mencoba memecah kebekuan di antara mereka. “Kalau gerbang itu benar-benar membuka sesuatu yang berbahaya, kita harus mencari tahu bagaimana cara menutupnya.”


Nia, yang masih memegang kain dengan simbol-simbol misterius itu, berpikir keras. “Mungkin simbol-simbol ini bisa memberi kita petunjuk lebih lanjut. Tapi kita perlu mencari tahu lebih dalam. Apa yang sebenarnya diwakili oleh ‘Gerbang Tersembunyi’ itu?”


Bimo, yang biasanya selalu berkomentar sarkastis, kali ini benar-benar diam, terpaku pada ketakutan yang baru saja mereka alami. “Kita bahkan nggak tahu siapa atau apa yang sedang kita hadapi. Bagaimana kita bisa melawannya?”


Sari, yang lebih sensitif, akhirnya bicara dengan suara pelan. “Aku merasa... kita tidak bisa melawan ini hanya dengan kekuatan fisik. Ini seperti... energi yang jauh lebih besar dari kita. Kita perlu bantuan.”


Keheningan sejenak menyelimuti mereka, hingga akhirnya Raka mendapatkan ide. “Bu Siti!”


Ketiga sahabatnya menatapnya bingung. “Bu Siti? Warungnya kan udah tutup,” kata Nia, tidak mengerti apa maksud Raka.


“Tapi kalian ingat nggak cerita-cerita lama yang suka dia bagikan? Tentang sejarah Desa Tirta Langit, tentang legenda-legenda aneh di sini?” Raka melanjutkan, antusias. “Mungkin dia tahu sesuatu. Kita harus bicara dengan dia!”


Bimo langsung bangkit, merasa ide itu masuk akal. “Ya, Bu Siti memang sering cerita tentang hal-hal aneh di desa ini. Siapa tahu dia ngerti soal gerbang atau kotak itu.”


Tanpa buang waktu, mereka meninggalkan rumah tua itu dan menuju rumah Bu Siti. Rumahnya terletak tak jauh dari warung kecil yang biasa mereka kunjungi. Dalam perjalanan, bayangan dari kejadian tadi masih menghantui mereka, tapi harapan untuk mendapatkan jawaban dari Bu Siti membuat mereka terus bergerak.


Ketika sampai di depan rumah Bu Siti, mereka mengetuk pintu dengan cemas. Butuh beberapa saat sebelum pintu terbuka sedikit, dan Bu Siti, dengan wajah lelah namun penuh kehangatan, muncul di ambang pintu.


“Raka, Nia, Bimo, Sari… Ada apa kalian datang malam-malam begini?” tanya Bu Siti heran.


Raka tak ingin berlama-lama, langsung menceritakan semuanya—rumah tua, pria misterius, lorong gelap, kotak kayu, hingga simbol-simbol aneh yang mereka temukan. Bu Siti mendengarkan dengan seksama, tanpa memotong cerita sedikit pun. Wajahnya berubah serius, dan ada kekhawatiran yang terlihat jelas di matanya.


Setelah mereka selesai, Bu Siti duduk dengan wajah termenung. “Kalian benar-benar telah membangkitkan sesuatu yang tidak seharusnya. Apa yang kalian lihat itu mungkin bukan sekadar bayangan. Itu adalah bagian dari masa lalu desa ini yang sudah terkubur lama.”


“Kuburan apa, Bu?” tanya Sari penasaran, sambil berusaha menenangkan diri.


Bu Siti menghela napas panjang. “Gerbang Tersembunyi yang kalian temukan itu adalah legenda lama. Dulu, ada kekuatan jahat yang hampir menghancurkan desa ini, tapi nenek moyang kita berhasil menyegelnya di suatu tempat yang mereka sebut ‘Gerbang Tersembunyi’. Dan sekarang, kalian tanpa sengaja membuka segelnya.”


Suasana menjadi semakin tegang. Nia meremas kain yang ada di tangannya, berusaha memahami makna cerita itu. “Jadi, bagaimana caranya menutup kembali gerbang itu?”


Bu Siti menatap mereka dalam-dalam. “Kalian harus menemukan apa yang disebut ‘Penjaga’. Ada yang menjaga segel itu selama ini, tapi jika penjaganya lemah, segel itu bisa terbuka.”


“Penjaga?” Bimo bingung. “Siapa atau apa itu?”


“Itulah yang harus kalian cari tahu. Penjaga itu mungkin sudah dekat dengan kalian, tapi kalian tidak menyadarinya,” jawab Bu Siti, suaranya berbisik, seolah-olah takut ada yang mendengarkan.


Keempat sahabat itu saling berpandangan. Mereka kini bukan hanya mencari jawaban, tapi juga harus menemukan Penjaga yang misterius itu. Tantangan baru menanti mereka, dan mereka sadar bahwa apa pun yang terjadi, Desa Tirta Langit bergantung pada mereka.

Comments

Popular posts from this blog

Portal ke Dunia Misterius

Portal ke Dunia Misterius : Kembali ke Ruang Bawah Tanah

Hari Tanpa Bunda